(Review Novel) Jangan Sisakan Nasi dalam Piring, Kembangmanggis (2018)

 

Jangan Sisakan Nasi dalam Piring adalah salah satu karya dari Kembangmanggis, nama pena dari Baby Ahnan yang terkenal di era 80'an. 

Berawal dari rekomendasi teman-teman di WAG Pejuang Tanos yang tergabung di Tanos Challenge, akhirnya kami memutuskan untuk menjadikan buku ini sebagai Edisi Baca Bareng #TanosReadingClub di bulan Maret 2021. 


Satu Kalimat tentang Jangan Sisakan Nasi dalam Piring

Novel yang di balik kesederhanaan penuturannya mengingatkan kita kepada nilai tentang hubungan intrapersonal yang terkadang terlupakan.



Review Novel Jangan Sisakan Nasi dalam Piring


Jangan Sisakan Nasi dalam Piring
Penulis: Kembangmanggis
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Sketsa Ilustrasi Sampul & Isi: Anggit Bestari
Cetakan pertama: 2018
ISBN 9786020618715
224 halaman


Bahkan sesuatu yang sederhana bisa menjadi menarik ketika seseorang mengamati sekelilingnya. 

Novel ini menceritakan tentang kehidupan penulis di Ubud dan penduduk lokal serta budaya dan nilai yang mereka pegang. Di dalamnya disajikan 23 cerita pendek berisikan pengalaman pribadinya. Menggunakan bahasa keseharian yang mudah kita cerna dan ikuti, namun tidak menghilangkan makna hidup yang dalam ... jika kita merenungkannya.

Di dalam buku ini, kita mengetahui Kembangmanggis tinggal di Ubud cukup lama. Tidak diceritakan jelas berapa lamanya, tapi anak-anak mengunjunginya sejak mereka duduk di bangku sekolah sampai kuliah, saat Kembangmanggis meninggalkan Bali.

Kembangmanggis tinggal di sebuah studio kerja yang dibangunnya dengan bantuan kontraktor Pak Edi yang baik hati, di atas sebidang tanah sewaan seluas 5 are di daerah Bisma, Monkey Forest Ubud.

Jika kalian pernah mengunjungi Ubud, pasti tahu kalau disana masih asri dan masih banyak pematang sawah. Di salah satu bab diceritakan bagaimana Kembangmanggis memperhatikan proses panen padi sampai menjadi beras dari studionya. Yang berarti studio ini berdekatan dengan alam. Namun juga mempunyai akses baik, karena ada salah satu hotel besar yang dibangun di sana.

Hobi Kembangmanggis selain photography adalah membawa kedua anaknya (Anggit dan Nala) yang berkunjung setiap liburan, menyesatkan diri dengan motor sewaan yang membawa mereka ke pelosok Ubud. Mereka bertiga di atas sepeda motor mengexplore Bali seperti layaknya penduduk lokal. 

Karena tersasar-sasar juga, sehingga mereka menemukan pengalaman yang berkesan dan melekat di hati dan ingatan. 

Di setiap bab ada ilustrasi coretan Kembangmanggis yang memudahkan kita mengikuti cerita.


Alur cerita

Novel Jangan Sisakan Nasi dalam Piring adalah kumpulan cerita pendek, dimana satu bab tidak berhubungan dengan bab lainnya. Walaupun begitu, mereka mempunyai peran penting sehingga ketika gambaran kehidupan di Ubud bisa saya dapatkan ketika saya sebagai pembaca menamatkan buku ini.

Konflik

kembangmanggis quote


Konflik yang terjadi kebanyakan adalah pandangan kita (pandangan Kembangmanggis) terhadap suatu hal. Yang ketika kita sudah mengetahui keseluruhan cerita, sudut pandang kita pun mengalami perubahan.

Seperti misal di dalam cerita Ibu Klengis, yang sering mampir ke studio untuk menawarkan dagangan juga memberi makan si putih, anjingnya. Kembangmanggis memang selalu menyediakan makanan nasi betutu (tulang, kepala ayam yang dibeli dari tukang nasi betutu) yang ditaruhnya di mangkuk makan anjing di depan studio. 

Ibu yang menjual Klengis ini judes, sering mengeluh dan suka memaksa. Klengis yang dijualnya pun harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan yang dijual di pasar. Walau begitu, Klengis Ibu ini paling enak rasanya. 

Ternyata belakangan diketahui kalau bahan yang digunakan si Ibu memang lebih berkualitas sehingga cita rasa pun menjadi berbeda. Juga kenyataan kalau Si Ibu berjalan jauh dari rumahnya yang tidak mempunyai akses air, dan dia bekerja siang malam untuk biaya pengobatan suaminya. 

Inilah yang saya maksud dengan perubahan sudut pandang tadi. Perbedaan harga yang suka kita resahkan walau sebenarnya tidak terlalu signifikan buat kita namun signifikan dampaknya terhadap hidup si penjual.



Karakter dalam Cerita

Selain Kembangmanggis dan kedua anaknya Anggit dan Nala, juga ada karakter lain yang mendapatkan peran di dalam cerita pendek. Selain karakter manusia juga ada anjing hitam Ikoh atau Chiro yang dengan kasih sayang dapat merubah kelakuannya yang bikin orang deg deg an.


Tema yang Diangkat di Dalam Novel

Di dalam novel Jangan Sisakan Nasi dalam Piring banyak mengangkat isu-isu sosial. 


Kutipan Favorite

Ketinggalan bahasa mereka, pasti.
Ketinggalan pengetahuan alam.
Ketinggalan kondisi alam tanpa teknologi.
Ketinggalan insting.
Ketinggalan semangat kerja keras mereka.
Ketinggalan ketekunan menghadapi masalah keseharian.
Ketinggalan kesabaran menghadapi nasib.
Dan yang terutama adalah ketinggalan kesederhanaan dan keluguan mereka. 
(Kembangmanggis, 2018)

Opini

Istilah dimana bumi dipijak disana langit dijunjung itu pantas untuk buku ini. Tidak hanya sekedar tinggal namun juga memahami kearifan dan budaya lokal.


Saya merasa membaca buku ini lebih banyak memberikan saya pengalaman ketimbang ketika saya bertahun-tahun di Bali. Saya akui, saya memang "terlalu" banyak menghabiskan waktu di pekerjaan sehingga saya lupa mengingat yang paling penting dalam hidup yaitu keindahan sekitar sebagai cerminan hidup itu sendiri.

Yang jelas ini bukan buku terakhir Kembangmanggis yang saya baca. Nantikan review berikutnya.


Konklusi

Kalimat dengan pemilihan diksi yang apik tidak selalu menjamin sebuah novel itu bagus dari segi cerita. Novel Jangan Sisakan Nasi dalam Piring dengan bahasanya yang sederhana, sukses memberikan informasi tentang kehidupan masyarakat Bali sekaligus membuat kita berpikir dan merenung. 

Cocok buat kalian yang tidak punya waktu banyak tapi ingin bacaan yang bermutu.

Fakta Tentang Penulis

Baby Ahnan  yang merupakan lulusan Fakultas Seni Rupa dan Design (FSRD) ITB Bandung terkenal dengan karyanya yang berkisah keseharian. Tarikan garis-garis ilustrasi yang tidak sempurna berperan sebagai kata-kata dalam buku sketsa Kembangmanggis. 

Dia sempat berpetualang ke Papua, mendalami ilmu Psikologi dan Filosofi. Setelah itu dia membaktikan dirinya membina pengusaha kecil dan menengah.

...

Nah setelah membaca review ini, apakah kalian juga tertarik membacanya? 

Happy reading!

xoxo



2 Comentarios

  1. udah tamat euy, congrat. aku tinggal dikit lagi. setuju tentang buku ini yang menceritakan pandangan si penulis tentang suatu hal yang dia temui yang mengubah sudut pandang dia terhadap hal/seseorang. seperti ibu klengis. awalnya saya agak gimana gitu dengan judul buku ini, apa kaitannya dengan mitos? kayanya udah gak berlaku lagi deh mitosnya. tapi ternyata bukan persoalan nasi bakalan nangis kalau gak diabisin, tapi ada jerih payah dan keringat dari setiap butir beras yang dihasilkan.

    sederhana tapi ngena

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya aku pikir pun awalnya ada kaitan sama si mitor, taunya memang di luar dugaan. Wah dirimu juga udah tamat uy. Hoorayyy. Tertarik merambah ke judul lain dari kembangmanggis?

      Hapus