Sinopsis Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk , Novel Ahmad Tohari yang Menyentuh (2003)

Sinopsis Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk merupakan gabungan dari tiga novel karya Ahmad Tohari yang diterbitkan pada tahun 1982 yang mengisahkan perjalanan hidup Srintil dan Ragus serta potret sosial di desa Dukuh Paruk.

Berbeda dengan desa lainnya, desa Dukuh Paruk menjungjung tinggi ronggeng dan cabul sebagai warisan dari leluhur mereka, Ki Sencamenggala. Bagaimana kelengkapan sinopsisnya, mari kita baca lebih lanjut.

trilogi ronggeng dukuh paruk

Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

Judul Buku: Ronggeng Dukuh Paruk.
Seri: Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari & Jantera Bianglala.
Jumlah Halaman: 406 halaman.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Latar waktu: Tahun 1955-1970


Blurb Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

Semangat Dukuh Paruk kembali menggeliat sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya dukuh itu merasakah kehilangan jati diri.


Dengan segera Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi. Cantik dan menggoda. Semua ingin pernah bersama ronggeng itu. Dari kaula biasa hingga pekabat-pejabat desa maupun kabupaten. 


Namun malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh tersebut hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya, mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan negara ini. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng berserta para penabuh calung ditahan.Hanya karena kecantikannya Srintil tidak diperlakukan semena-mena oleh para penguasa penjara itu. 


Namun pengalaman pahit sebagai tahanan politik membuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Karena itulah setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya. Ia tak ingin lagi melayani lelaki manapun. Ia ingin menjadi wanita somahan. Dan ketika Bajus muncul dalam hidupnya sepercik harapan muncul, harapan yang semakin lama semakin besar.


novel ronggeng dukuh paruk


Sinopsis Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk Buku 1

Di dalam buku pertama, Catatan Buat Emak dibuka dengan Srintil yang bersenandung nyanyian ronggeng. Di usianya yang ke-11, dia sudah hapal lagu-lagu ronggeng tanpa mengerti artinya yang cabul. Di bawah pohon itu, di depan ketiga orang temannya, Srintil menari ronggeng. Sebagai balasan karena teman-temannya mau mengiringi sebagai alat musik, Srintil membolehkan mereka mencium pipinya. 

Sakarya, kakek Srintil yang merawatnya dari dia semenjak bayi menyadari bahwa cucunya mungkin saja mendapatkan indang. Untuk lebih yakin, dia pergi menemui Kartareja, dukun Ronggeng di Dukuh Paruk. Tidak lama sesudah itu, Srintil tinggal  bersama pasangan Kartareja di rumah mereka untuk dipersiapkan menjadi Ronggeng Dukuh Paruk. 

Sudah lama Dukuh Paruk memang tidak memiliki Ronggeng. Ibaratnya harta berharga, Ronggeng dan cabul adalah warisan yang diturunkan oleh Ki Secamenggala. 

Ki Secamenggala yang sudah meninggal dan bahkan seorang begal dulunya, sangat diagungkan oleh masyarakat Dukuh Paruk. Bahkan kuburannya tidak sepi dari kemenyan. Sakarya yang juga tetua di dusun dan juga merupakan keturunan dari Ki Secamenggala, merasa ada kewajiban untuk meneruskan warisan ini. 

Apalagi mendapati kenyataan bahwa anaknya (ayah ibu Srintil) telah menewaskan 18 orang penduduk dusun akibat keracunan tempe bongkrek yang dijualnya, termasuk Ronggeng yang terakhir. Adanya Ronggeng bisa memberikan hiburan bagi dusunnya. 

Di malam pertama, Srintil manggung sebagai Ronggeng. Tidak saja pria yang berdecak kagum melainkan juga para ibu-ibu. Mereka ingin menjadi bagian yang mendukung Ronggeng. Benar saja, esoknya mereka berebut memandikan Srintil. 

Berbeda dengan penduduk lainnya, Rasus, anak laki-laki yang saat itu berusia 14 tahun, merasa Srintil tidak seharusnya menjadi Ronggeng. Dia adalah salah satu teman bermain Srintil, yang ikut mengiringi dan menonton Srintil di adegan pembuka. 

Selama ini Rasus, yang kedua orangtua-nya meninggal akibat tempe bongkrek, menganggap Srintil sebagai penjelmaan ibunya yang tidak diingatnya. 

Hatinya terkoyak ketika Srintil sendiri mengatakan bahwa dia ingin menjadi Ronggeng. Apalagi ketika malam saat Srintil manggung itu, dia melihat bagaimana Ki Kartareja berbuat cabul saat tayub menari bersama Srintil. Ragus merasa jijik melihat seorang kakek tua berbuat seperti itu kepada bocah berumur 11 tahun. 

Namun walaupun demikian, Rasus memberikan keris kecil peninggalan ayahnya, yang meninggal sehari sesudah keracunan tempe bongkrek, kepada Srintil saat Srintil tertidur di kediaman dukun Kartareja. Rasus merasa keris kecil ini lebih cocok dengan tubuh Srintil yang kecil, dibandingkan keris yang sekarang. Tidak dinyana ternyata keris itu adalah keris pusaka yang dapat menjadikan seorang Ronggeng menjadi terkenal.

Ternyata menjadi Ronggeng Dukuh Paruk tidaklah otomatis begitu saja. Seseorang harus melewati dua ujian ketika dia sudah akhil baligh. Ujian yang pertama adalah upacara adat penghormatan kepada Ki Secamenggala dan ujian yang kedua adalah Bukak Kelambu.

Upacara Bukak Kelambu ini adalah semacam sayembara untuk mendapatkan kesempatan mendapatkan keperawanan Ronggeng Dukuh Paruk. Kali ini Ki Kartareja meminta sekeping emas. 

Dower yang sudah memberikan dua keping perak sebagai DP kemudian membawa kerbau besar yang dicuri dari ayahnya, ternyata ditolak oleh Ki Kartareja. Dia diminta menunggu sampai batas waktu yang ditentukan. Mendekati injury time, Samsul datang membawa sekeping emas. 

Sebelum ditentukan siapa yang menang, mereka disuguhi dengan minuman keras yang memabukan mereka dan membuat Dower tertidur. Sementara Samsul melayani Nyai Kartareja. 

Srintil sendiri yang ketakutan, menemui Rasus. Singkat cerita, Srintil menyerahkan keperawanannya kepada Rasus sebelum melayani juga Dower dan Samsul kemudian.

Sejak kejadian malam itu, Rasus tidak lagi dapat melihat Ibunya di dalam sosok Srintil. Ia pun keluar dari kampung keesokan harinya dan menjadi buruh pengupas singkong di pasar. Sementara Srintil kecewa karena Rasus pergi meninggalkan dirinya.

Sinopsis Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk Buku 2

Singkat cerita Rasus yang kini bekerja di pasar mulai menyadari adanya perbedaan dunia di luar dusun Dukuh Paruk. Misalnya saja nilai moral, seperti bagaimana memperlakukan wanita. Di dusunnya, cuitan dan kata kata cabul termasuk cara menyapa wanita. Sementara di dunia luar, itu adalah bentuk penghinaan.

Di desanya memang hampir jarang sekali perselisihan di dalam hubungan pria wanita. Jika seorang wanita belum juga hamil, dia bisa tidur dengan tetangganya. Suaminya tidak perlu marah, dia hanya cukup tidur dengan istri tetangga itu.

Perbedaan itu semakin besar dia rasakan ketika dia menjadi pelayan serdadu. Disitulah dia mengenal baca tulis yang diajarkan oleh kaptennya. Sesuatu yang asing di dusunnya. 

Pada suatu hari, ketika banyak terjadi isu begal. Rasus yang kala itu masih menjadi pelayan serdadu,  datang kembali ke Dukuh Paruk dan ternyata berhasil menembak dua orang begal. Malamnya dia minta ijin untuk tinggal semalam menemui neneknya yang sudah tua. Malam itu dia melewatkannya juga bersama Srintil.

Srintil yang kini sudah menjadi Ronggeng yang terkenal dan sudah memiliki banyak harta mengajak Rasus menikah. Dia siap menjadi istri tentara dan meninggalkan profesi ronggengnya.

Lama berpikir, di pagi hari Rasus akhirnya bertekad meninggalkan kampung halamannya dan Srintil beserta mimpinya. Dia tidak sanggup mengambil satu satunya penghiburan yang dimiliki oleh dusunnya, yaitu Ronggeng Dukuh Paruk.

Buku kedua dimulai dengan Srintil yang terbangun di pagi hari mencari sosok Rasus. Mendapati Rasus tidak ada di rumah, dia pun berjalan sampai ke pasar Dawuan, berpikir bisa menemukan Rasus di sana. Namun apa yang dicarinya tidak ada. 

Srintil yang kelelahan pun tertidur di salah satu warung. Orang-orang di Pasar tampaknya memahami kalau Srintil tengah bersembunyi dari Nyai Kartareja. Mereka melihat Srintil seperti anak kecil sewajarnya yang berusia 14 tahun saat itu. Sehingga ketika tak lama Nyai mencarinya di pasar, mereka mengatakan  kalau Srintil sudah pergi.

Bukan tanpa alasan, Nyai Kartareja mencarinya. Marsudi, kepala perkebunan itu datang dan ingin mengajak Srintil jalan-jalan. Dia tampak kecewa mendapati Srintil tidak ada di rumah. Sebelum Marsudi pulang, Nyai berkata alasan Srintil tidak ada di rumah karena dia sedang ngambek meminta kalung seperti milik ibu lurah. Marsudi tampaknya terpancing perkataan manis beracun Nyai Kartareja.

Srintil akhirnya berhasil ditemukan oleh neneknya di pasar, tengah menonton sepasang suami istri bernyanyi. Srintil merasakan perbedaan dengan nyanyian ronggeng yang cabul. Saat sandikala itu lah Srintil kembali lagi ke dusunnya.

Kepergian Rasus merubah Srintil. Perubahan yang dinilai tidak baik untuk bisnis Ki Kartareja. 

Srintil bukan saja menolak untuk manggung, namun juga menolak untuk tidur dengan yang datang padanya. Malam terakhir bersama Rasus itu dirasakannya berbeda dengan apa yang dirasakannya ketika melayani pria pria yang datang.

Dengan banyak pertimbangan, akhirnya Srintil menerima tawaran manggung di Kecamatan untuk perayaan hari kemerdekaan. Mereka yang tidak mengerti apa sebenarnya hari kemerdekaan itu patuh terhadap aturan yang diberikan seperti tidak diperbolehkan menyuguhkan sesajen sebelum manggung. 

    "Bagi Sakum hura-hura hari ini tanpa makna, betapapun keras dia berusaha menangkapnya. Dia sudah mendengar, bukan mengerti, bahwa perayaan hari ini demi mengagungkan hari kemerdekaan, bukan kemerdekaan itu sendiri. Sementara itu konsep tentang kemerdekaan baginya adalah bagian dari antah berantah. Baginya hidup ini harus dijalani dengan pasrah, dengan atau tanpa apa yang sering dikatakan orang kemerdekaan"

Pertujukan di Kecamatan bisa dibilang cukup sukses. Srintil juga merasa tertarik pada salah seorang pejabat desa yang masih muda. Namun kemudian dihapusnya perasaan itu, karena merasa dia adalah Ronggeng.

Ada perasaan dari Srintil ingin merasakan menjadi wanita yang terhormat, dan bukan seorang Ronggeng Dukuh Paruk yang bisa tidur dengan siapa saja yang sanggung memberikan hadiah kepadanya.

Sejak kejadian itu, Srintil yang saat itu sudah berusia 17 tahun mulai merasakan keinginan mempunyai anak. Sayang sepertinya Nyai Kartareja telah membuat rahimnya kering. Dia pun jatuh cinta pada bayi Goder, anak tetangganya. Selain sayang dan menganggap Goder seperti anaknya sendiri, menyusui Goder ternyata bisa juga mengurangi libidonya. Dia menjadi sangat pemilih untuk pria yang naik ke tempat tidurnya.

Sementara tawaran untuk menjadi Ronggeng masih dia terima. Dia tidak sanggup membayangkan bagaimana nasib penabuh kendang dan lainnya yang bergantung hidup dari manggung. Srintil sendiri bisa dibilang sudah cukup kaya, bahkan bisa membeli tanah dengan atas nama Goder.

Sesudah manggung di perayaan hari kemerdekaan di kecamatan, Srintil dan grupnya sering manggung untuk partai. Bait lagu ronggeng pun diganti dengan kata-kata partai yang Srintil dan grupnya tidak mengerti. Bahkan mereka mengganti Ronggeng Dukuh Paruk menjadi Ronggeng nama partai itu. Mereka juga tidak diperbolehkan melakukan persembahan kepada leluhur, dan itu mengganggu buat mereka.

Awalnya mereka segan dengan pimpinan partai tapi lama kelamaan karena takut identitas ronggeng berubah. Mereka memutus kerja sama. Pimpinan partai tampak memaklumi. Namun satu hari makam Ki Secamenggala ada yang merusak dan mereka melihat topi caping di sana. Penduduk desa Dukuh Paruk merasa marah dan menyalahkan orang orang dengan topi caping.

Mereka pun berniat membalas dendam dengan cara memeriahkan kembali kegiatan partai dan dengan semangat menyanyikan dengan bait bait untuk melawan si topi caping.

Tidak lama sesudah itu, terjadi kejadian besar. Dimana mana terjadi penangkapan anggota partai itu termasuk beberapa orang grup Srintil. Srintil yang bermaksud menanyakan ke kantor desa saat itu malah ikut ditangkap.

Dusun Dukuh Paruk pun terjadi kekacauan. Rumah digeledah dan dirusak. Dimana mana rumah dibakar, beberapa masuk penjara karena dianggap sebagai anggota partai yang padahal mereka terlalu bodoh untuk mengerti.

Rasus yang kini sudah menjadi tentara, mengetahui peristiwa yang menimpa Dukuh Paruk meminta ijin untuk menengok neneknya. Walau sebelumnya tidak diijinkan karena berbahaya, mengingat beberapa orang tentara temannya ada yang ditangkap karena kesalahpahaman. Akhirnya mengunjungi dusunnya yang miskin itu kini semakin menyedihkan. Malam itu, Nenek Rasus menghembuskan nafas terakhir dan Rasus sempat membisikan ayat ayat suci untuk neneknya.

Disana dia mengetahui kalau Srintil ditangkap dan berusaha mengunjunginya dari beberapa informasi yang didengarnya. 

Dengan mengaku ngaku sebagai bekas pelayan tentara komandan yang bertugas disana, dia yang mencuci mobil komandan itu sebelumnya berhasil menemui Srintil walau belum berhasil bercakap karena waktunya keburu habis.

Rasus keluar dari penjara itu dengan perasaan kecewa karena jangankan membebaskan Srintil, bercakap saja dia tidak sempat.

Sinopsis Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk Buku 3

Setelah menjalani masa tahanan selama kurang lebih 2 tahun, Srintil kembali lagi ke dusun Dukuh Paruk. Betapa sedihnya ketika awalnya Goder tidak mengenalinya. Namun setelah itu mereka bagai ibu dan anak yang tidak terpisahkan. 

Di buku ketiga, berjudul Jantera Bianglala ini, dikisahkan perubahan Srintil yang makin kentara. Jelas ada yang terjadi di penjara itu dan bagaimana perasaannya menyandang status sebagai bekas tahanan anggota partai itu. Srintil pun masih diwajibkan untuk lapor selama seminggu dua kali.

Srintil melakukan apa yang tidak dilakukan oleh Ronggeng sebelumnya yaitu menolak untuk melayani pria di tempat tidur. Namun sesekali dia masih menerima permintaan ronggeng dan tayub. Srintil juga merasa kalau indangnya sudah meninggalkannya.

Srintil pun mulai membuka hati dan menaruh harapan pada Bajus, seorang pria yang memimpin pengukuran tanah di Dukuh Paruk. Bajus sangat sopan dan terhormat seperti pria yang dulu ditemuinya di Kecamatan saat perayaan hari kemerdekaan. 

Sering mereka menghabiskan waktu bertiga dan bahkan saat mereka main ke pantai, bertiga dengan Godek. Bajus sempat mengambil beberapa photo Srintil. Kedekatannya dengan Bajus bahkan sampai membuat Srintil membangun rumah dengan uang tabungannya.

Bajus bahkan membantu kekurangan bahan bangunan. Walau perasaan Srintil tidak enak dengan masyarakat sekitarnya karena perbedaan bangunan. Namun, demi bisa memajang photo itu dan menjamu Bajus dengan baik, dia pun mengindahkannya. 

Namun peristiwa terakhir dengan Bajus lah yang justru merubah nasib Srintil dan Rasus.

Suatu hari Bajus meminta Srintil menemaninya rapat dengan pejabat di malam hari. Srintil pun berdandan tidak kalah seperti istri para pejabat yang biasa hadir di pertemuan penting. Srintil diminta menunggu di dalam kamar villa yang disewa Bajus.

Srintil berpikir mungkin Bajus akan meminta menjadi istrinya di malam itu.

Kenyataan ternyata berbeda dengan apa yang Srintil harapkan. Bajus ternyata mengumpankan Srintil untuk mendapatkan projek yang dia inginkan. Ketika Bajus meminta Srintil memenuhi permintaannya sebagai balasan budi baik selama ini, Srintil yang kecewa menolak dan mengunci pintu kamar vila.

Bajus yang marah berteriak mengata ngatainya. Srintil mulai hilang kepercayaan dirinya akan kehidupan yang lebih baik terutama kehidupan berumah tangga yang didambakannya. 

Pukulan yang besar itu menyebabkan Srintil kehilangan kewarasannya. Dia dibawa pulang oleh Bajus malam itu juga dengan tanpa ekspresi.

Rasus yang pulang dari tugas Kalimantan kembali mengunjungi dusun kelahirannya. Ketika dia tahu Srintil sakit, dia membawanya untuk diperiksakan. Rasus pun kini tahu apa yang dia akan lakukan untuk hidupnya ke depan.



Puisi Ronggeng Dukuh Paruk


Dukuh Paruk hanya mengenal kehidupan saat musim kemarau dan musim penghujan

Saat air tidak ada, dan sawah rusak kekeringan

sebulir nasi menjadi bagai sebutir mutiara berkilauan

bahkan dupa yang kami bakar tidak mampu mendatangkan hujan


Ketika musim penghujan datang, 

kaki kami gatal karena kutu air  

walau begitu kaki kami rapat satu sama lain di atas ranjang

ditemani perempuan-perempuan kami dan bir 


Kami tidak mengerti apa itu pendidikan

kami tidak mengenal mengapa itu penting

apakah itu bisa membawa kebahagiaan?

seperti cabul dan ronggeng


Dukuh Paruk sejak kelahirannya tak pernah mampu menangkap maksud tertinggi kehidupan.

Tanah air kami yang kecil tak pernah bersungguh-sungguh 
mengembangkan akal budi pula,
 

tanah air kami yang kecil tak pernah berusaha menyeleraskan dengan selera ilahi.

     


Film Ronggeng Dukuh Paruk

Kalian juga bisa menyaksikan filmnya di Youtube berjudul The Dancer atau Sang Penari. Walau terjadi perbedaan umur terjadinya peristiwa itu antara novel trilogi ronggeng dukuh paruh dan filmnya, tapi tidak mengurangi keindahan ceritanya.




#RCO9
#OneDayOnePost
#ReadingChallengeODOP9

0 Comentarios