Entrok, Novel Kekuatan Seorang Perempuan (2010)

    

Entrok adalah novel pertama Okky Madasari. Buat yang tidak berbahasa jawa, pasti tidak mengenal apa itu Entrok dan mungkin juga bertanya mengapa cover bukunya menampilkan perempuan yang tengah mengikat tali beha. 

Apa sebenarnya yang hendak diceritakan penulis dari cover yang menampilkan pakaian dalam wanita ini? 


Satu Kalimat tentang Entrok

Novel yang mengingatkan kita bahwa dengan bekerja keras, seseorang bisa sukses tanpa ilmu dan pendidikan, tapi ilmu termasuk ilmu agama memberikan dia lebih banyak pilihan untuk menentukan arah hidup.


entrok-okky-madasari






Review Novel Entrok


Entrok
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 5 April 2010
ISBN 9789792255898
282 halaman
Goodreads Rating: 4,02


Bahkan sesuatu yang sederhana bisa menjadi menarik ketika seseorang mengamati sekelilingnya. 

Novel dengan latar belakang tahun 1950 -1999, berisikan 8 bab menceritakan perjalanan hidup Marni dan keluarganya. 


Daftar Isi

Setelah Kematian
Entrok (1950 - 1960)
Tuyul-Tuyul Ibuku (1970-1982)
Dewandaru (1982-1983)
Kentut Kali Manggis (1984-1985)
Kembang Setelon (1985-1989)
Kedung Merah (1987)
Raga Hampa (1990-1994)

review-novel-entrok


Alur cerita

Semua berawal dari keinginan sederhana, seperti memiliki entrok.
Novel dibuka dengan dua karakter yang sepertinya akan mendominasi bab berikutnya. Dalam bab pertama digambarkan kondisi Marni dan Rahayu di Januari 1999. Rahayu menyebutkan bahwa kondisi Marni tidak berubah selama lima tahun terakhir. 

Ada apa dengan Marni?

Rahayu menyebutkan Marni telah kehilangan jiwa. Ibunya hanya berbicara sesuatu yang dia tidak mengerti dan sering juga dia mendengar Marni berbicara sendiri. 

Bab selanjutnya bercerita tentang kehidupan Marni di tahun 1950. Marni hanya hidup berdua dengan Simbok, ibunya yang bekerja di pasar sebagai buruh gaplek. Bapaknya yang pengangguran dan ringan tangan, sudah lama meninggalkan mereka. Marni menggambarkan bapaknya seperti anjing gila, yang marah saat kelaparan.

Entah berapa usia Marni saat itu. Dia sendiri tidak tahu. Namun payudaranya mulai tumbuh, dan dia mulai risih dan ingin memakai entrog atau bh. Di jaman itu, bra bukanlah "must have item" seperti sekarang. Kebanyakan dari perempuan tidak memiliki entrok. Mereka membiarkan bagian tubuh itu bebas.

Paman Marni hanya mampu membelikan untuk anaknya. Sehingga fokus hanya pada benda satu itu, dan sampai dia yang masih kecil ingin ikut membantu ibunya di pasar agar bisa membelinya di salah satu kios di pasar.

Namun apa daya, setelah beberapa waktu bekerja bersama SImbok. Marni mengetahui kalau dia tidak mempunyai kemungkinan dibayar dengan kepingan uang. Upah yang mereka dapatkan berupa gaplek yang hanya bisa untuk dimakan, tidak menjadi alat tukar bahkan alat pembayaran.

Semakin besar keinginannya untuk memiliki entrok, semakin dia fokus pada sekelilingnya. Dia mengamati, kalau menjadi buruh pikul di pasar adalah satu satunya pekerjaan yang memberinya upah dengan uang koin. 

Marni pun berganti profesi menjadi buruh pikul di pasar. Dia mempunyai beberapa langganan yang entah karena kasihan, menyerahkan barang belanjaannya untuk dibawa Marni. 

Marni terus giat bekerja sampai dia menyadari kalau dia mengumpulkan banyak uang. Entroknya yang pertama membawa dia kepada keinginan untuk membeli yang lain, dengan warna berbeda dan bahan yang berbeda.

Dia memutar otak, dan melihat peluang usaha bakulan. Uang yang dia kumpulkan sekarang bisa dia jadikan sebagai modal membeli barang barang kebutuhan rumah tangga. Dia akan menjajakan ke perkampungan sehingga orang bisa membeli barang dari dia, dengan sedikit keuntungan.

Tidak lama menjajakan profesi itu, sesudah Marni mendapatkan haid pertama. Dia dipinang Teja, seorang kuli pikul di pasar. Bukan atas cinta, dia menerima pinangan. Namun atas desakan orang sekitar.

Mereka berdua meneruskan usaha bakulan. Teja berhenti bekerja di pasar, dan membantu Marni menjajakan dagangan. 

Di bab selanjutnya, mengambil latar tahun 1970 - 1982, diceritakan usaha Marni sudah sangat maju. Dari pernikahan dengan Teja, mereka dikaruniai seorang putri yang diberi nama Rahayu, yang kita kenal di bab pertama.

Tekad Marni adalah menyekolahkan Rahayu setinggi-tingginya, supaya terlepas dari kebodohan. Dia bekerja sangat keras, agar suatu saat Rahayu menjadi orang yang terhormat. Tidak seperti dirinya.

Kasih sayang Marni yang bodoh dan tidak bersekolah ini tidak dapat dimengerti oleh Rahayu. Tidak seperti Marni yang selalu menurut pada Simbok. Rahayu tumbuh dengan mempertanyakan apa yang Marni kerjakan termasuk apa yang Marni percayai.

Buat Marni, agama yang Rahayu sekarang pelajari asing buatnya, yang dibesarkan dengan cara yang berbeda. Marni percaya akan adanya Tuhan, karena itu dia sering memberikan persembahan dan ritual di saat-saat penting, seperti misalnya ketika Rahayu akan menghadapi ujian.

Adanya perbedaan kepercayaan yang tidak dimengerti oleh Rahayu, dan juga profesi Marni sekarang, yang memberikan pinjaman kepada orang lain dengan imbalan tambahan uang, membawa konflik antara ibu dan anak ini.

Sebuah konflik yang tidak terlihat oleh Marni, tapi tidak untuk Rahayu karena dia terus membawa sampai ke tahapan kehidupan berikutnya.

Buat Marni, Rahayu adalah entroknya sekarang. Sebuah tujuan untuk kehidupan yang lebih baik, yang dia persembahkan buat putrinya seorang. Walaupun kondisi ekonomi dan usahanya saat itu dipengaruhi oleh kondisi politik.

Akankah Marni bisa mewujudkan impiannya saat ini?

Konflik


Novel ini terasa begitu nyata buat saya, sehingga saya bisa merasakan emosi baik itu kepedihan, kekesalan, dan kebahagiaan yang dialami karakter.

Konflik yang dialami ibu dan anak ini seakan tidak menemukan titik temu. 

Seperti yang ditulis dalam blurb novel Entrok, 

Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi orang asing bagi satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia yang tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing tanpa pernah ada titik temu.

Konflik lain yang timbul adalah kekentalan patriarki. Selain gambaran akan bapak Marni yang tidak bekerja dan ringan tangan, juga kita melihat bagaimana pria mudah berselingkuh dari cerita kehidupan di pasar. Bahkan belakangan kita mengetahui, Teja yang berselingkuh dari Marni dan Rahayu yang menjadi istri siri dosennya. 

Yang menarik lainnya adalah penerimaan masyarakat terhadap sosok Marni. Mereka menghujat dia habis-habisan, memberikan dia label negatif namun membutuhkannya. 

Marni adalah penggambaran dari cikal bakal kredit dan pinjaman berbunga. 

Apakah yang Marni lakukan salah? Lalu apa bedanya dia dengan kartu kredit di jaman sekarang?

Konflik lain yang tidak kalah menarik dan membumbui kehidupan Marni dan Rahayu adalah kondisi sosial dan politik di masa itu. Gambaran itu dapat kita lihat dari blurb Entrok,

Lalu bunyi sepatu-sepatu tinggi itu, senantiasa mengganggu dan merusak jiwa. Merka menjadi penguasa masa, yang memainkan kuasa sesuai keinginan. Mengubah warna langit dan sawah menjadi merah, mengubah darah menjadi kuning. Senapan teracung di mana-mana.

Marni dan Rahayu, dua generasi yang tak pernah bisa mengerti, akhirnya menyadari ada satu titik singgung dalam hidup mereka. Keduanya sama-sama menjadi korban orang-orang yang punya kuasa, sama-sama melawan senjata.


Karakter dalam Cerita

Semua karakter dalam cerita mengalami perkembangan. 

Okky Madasari mampu menuliskan novel dengan karakter yang kuat. Kita bisa melihat dari karakter Marni dan Rahayu. Bahkan untuk karakter yang hanya banyak muncul di bab bab awal seperti Simbok, kita bisa mempunyai gambaran jelas.


Tema yang Diangkat di Dalam Cerita

Di dalam novel Entrok banyak mengangkat isu-isu sosial, politik dan feminisme, juga menampilkan potret patriaki di Indonesia.

Kita dapat melihat bagaimana kondisi masyarakat dan politik Indonesia berubah di periode seperti yang kita lihat dari judul bab.

Di tahun 1950 an, kita melihat tidak banyak pekerjaan yang ditawarkan bagi penduduk. Kebanyakan penduduk bertani, atau bekerja sebagai buruh pengupas ketela, atau pembuat gaplek. 

Mereka bekerja untuk bertahan hidup. Dengan ketela sebagai upah, mereka tidak mengenal menabung. Mereka hanya mengenal makan agar bisa bekerja mendapatkan ketela untuk mereka makan. Sebuah lingkaran yang pendek.

Kemudian setelah peristiwa G30S PKI tahun 1965, perubahan politik terjadi sangat signifikan. Diikuti dengan pemilihan partai rakyat, yang tidak cukup dimengerti peran dan fungsinya bagi kebanyakan penduduk yang tidak mengenal pendidikan.


Opini

Novel terasa nyata, Marni, . Pada tahun 1950 an memang kemiskinan dan kurangnya pendidikan menjadi permasalahan bangsa setelah melalui masa penjajahan.

Ada kemiripan tema yang diangkat dan akhir kisah dengan Ronggeng Dukuh Paruk. Tema feminisme yang digambarkan lewat tokoh Marni, mirip dengan tokoh Srintil. 

Keduanya mungkin seusia. Mereka sama-sama mengalami bagaimana hidup di tahun 1950 an. Mereka mempunyai pemikirannya sendiri, dan mencoba merubah hidup mereka. 

Sesuatu yang jarang sekali ditemui pada jaman itu, apalagi mengingat latar belakang mereka yang tidak mempunyai pendidikan dan berasal dari golongan menengah ke bawah.

Dari novel ini menyadarkan saya jika kita mempunyai kecenderungan membenci sesuatu yang kita tidak mengerti, khawatir akan opini orang lain. 

Selain itu kita cenderung memberikan hukuman kepada yang mencintai kita dengan menjauhi mereka, hanya karena mereka berbeda. Seperti Rahayu yang memilih mengisolasi diri dari Marni semasa sekolah, hanya karena dia tidak mengerti mengapa Marni terkadang masih mempersiapkan sesajen dan menjalankan ritual.

Hanya karena kita memiliki ilmu yang lebih tinggi, sehingga terkadang kita menolak mengerti.


Konklusi

Novel ini adalah salah satu novel yang sulit untuk ditunda membaca karena ceritanya begitu menarik. Okky Madasari berhasil memikat pembaca dengan kemampuan menulisnya yang membuat cerita mengalir dan tidak ada plot hole.

Fakta Tentang Entrok

Kisah Entrok ini terinsipirasi dari nenek Okky, yang mendasari dia untuk menulis novel dengan tema perempuan yang begitu kuat.

Seperti dikutip dari wawancara M. Ricko dengan Okky Madasari yang ditulis di website Okky

Entrok menjadi simbol keterkungkungan dan perlawanan perempuan. Okky tidak menggunakan kata BH karena ada makna kultural dan simbolis yang melekat pada entrok, tapi tidak pada BH.
Entrok merupakan gambaran ketidakadilan perempuan pada masa Orde Baru. Perilaku ketidakadilan itu adalah negara, masyarakat, pemuka agama, maupun laki-laki di sekitar perempuan itu.
...

Nah setelah membaca review ini, apakah kalian juga tertarik membacanya? 

Happy reading!

xoxo



0 Comentarios